Medan – Warkop di Tanah Abang Siapa sangka, sebuah warung kopi kecil di Tanah Abang yang biasa jadi tempat nongkrong tukang ojek dan pekerja malam, justru telah menjadi sasaran teror geng motor hingga tiga kali.
Warkop sederhana di kawasan Jati Baru itu awalnya hanya ingin melayani warga yang butuh kopi, mie instan, atau rokok tengah malam. Tapi dalam dua bulan terakhir, geng motor bertopeng dan bersenjata tumpul tiba-tiba menyerang — memecahkan kursi plastik, melempar batu, bahkan mengancam pengunjung.
“Kami bingung. Gak pernah ikut ormas, gak ada masalah sama siapa-siapa. Tapi selalu diserang. Ini sudah ketiga kalinya,” kata Darto (43), pemilik warkop, sambil menunjukkan bekas pecahan kaca yang masih tertempel di dinding.
3 Kali Diserang, 0 Kali Tahu Alasannya
Serangan terakhir terjadi pada Sabtu dini hari, 5 Oktober, sekitar pukul 01.00 WIB. Sekelompok pemuda bermotor, mengenakan masker dan jaket hitam, datang dengan suara knalpot bising. Tanpa bicara, mereka langsung melempar batu ke arah warkop yang masih buka.

Baca Juga : Viral Tamu Bawa Sajam-Serang Karyawan Hotel di Medan gegara Kunci Kamar
Saksi mata mengatakan, pengunjung langsung panik dan lari menyelamatkan diri. Beberapa motor milik pelanggan rusak, satu meja warung patah, dan spanduk jualan sobek.
“Kejadiannya cepat. Mungkin gak sampai dua menit. Tapi efeknya luar biasa. Kami semua ketakutan,” ujar Riko, ojek online yang sedang ngopi saat kejadian.
Polisi: Sudah Ada Laporan, Investigasi Jalan
Kapolsek Tanah Abang menyebut pihaknya sudah menerima tiga laporan berbeda dari lokasi yang sama, dan sedang menyelidiki apakah ini aksi acak atau ada motif tertentu.
“Kami duga ini aksi geng motor yang sedang ‘uji nyali’ atau cari zona kekuasaan. Tapi kenapa sampai tiga kali menyasar warkop yang sama, itu yang sedang kami telusuri,” ujar Kanit Reskrim Tanah Abang.
Patroli malam diklaim sudah ditingkatkan, namun warga tetap khawatir karena pelaku selalu datang di waktu tak terduga dan menghilang cepat.
Warkop, Zona Nyaman yang Terganggu
Bagi banyak warga kota, warkop adalah ruang aman sosial — tempat orang bercengkerama tanpa syarat. Namun jika tempat seperti itu pun tak aman dari geng motor, lalu di mana warga bisa merasa tenang?
“Kami bukan tempat tawuran, bukan basecamp. Hanya tempat istirahat orang-orang yang habis kerja. Tapi kenapa jadi sasaran?” keluh Darto.
Fenomena ini menunjukkan bahwa geng motor bukan lagi hanya “anak muda ugal-ugalan”, tapi sudah berkembang menjadi ancaman nyata bagi keamanan sosial mikro, bahkan di tempat-tempat sekecil warung kopi.
Penutup: Jakarta Butuh Lebih dari Patroli
Kasus penyerangan warkop Tanah Abang adalah alarm sosial, bahwa kekerasan geng motor bukan hanya masalah lalu lintas atau kenakalan remaja. Ia sudah merambah ke ruang-ruang sipil, mengusik warung sederhana yang seharusnya jadi tempat rehat, bukan tempat takut.
Jakarta butuh lebih dari sekadar patroli malam. Butuh kehadiran nyata negara di titik-titik rawan, sebelum ketakutan menguasai ruang yang seharusnya hangat oleh aroma kopi dan tawa warga.
