Jeritan Medan – 52 Tahun Kudeta Militer, Warga Chili Kenang Jatuhnya Salvador Allende Ribuan warga kembali memenuhi jalan-jalan utama ibu kota Santiago pada Kamis (11/9/2025) untuk memperingati 52 tahun kudeta militer yang mengguncang negeri itu pada 1973. Kudeta tersebut menggulingkan Presiden Salvador Allende, pemimpin sosialis yang terpilih secara demokratis, dan menandai dimulainya rezim militer Jenderal Augusto Pinochet yang berlangsung lebih dari 17 tahun.
Di bawah langit musim semi yang cerah, massa berjalan menuju Istana La Moneda, simbol yang pada 11 September 1973 dibombardir jet tempur militer. Banyak di antara mereka membawa bunga merah dan foto kerabat yang hilang semasa kediktatoran. Di trotoar, lilin-lilin kecil dinyalakan, sementara suara nyanyian lagu perjuangan “El Pueblo Unido Jamás Será Vencido” menggema, menciptakan suasana yang sarat emosi dan nostalgia.
Baca Juga: Walkot Rico Targetkan Ubah Kabel Udara ke Tanam di 12 Jalan di Medan
Peringatan yang Sarat Makna
Peringatan resmi digelar di halaman Istana La Moneda dengan dihadiri Presiden Gabriel Boric, menteri kabinet, diplomat asing, serta organisasi hak asasi manusia. Dalam pidatonya, Boric menegaskan kembali komitmen pemerintahannya untuk menjaga demokrasi dan menolak segala bentuk otoritarianisme.
“11 September adalah luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun kita tidak boleh membiarkan ingatan itu hilang. Demokrasi harus dijaga dengan ingatan, dengan kebenaran, dan dengan keadilan,” ucap Boric.
Sejumlah keluarga korban juga hadir. Di antara mereka ada Maria Teresa (64), yang hingga kini masih mencari keberadaan kakaknya yang hilang pada 1974. “Bagi kami, setiap peringatan bukan hanya soal mengenang Allende, tetapi juga soal mencari keadilan. Kami ingin tahu di mana saudara-saudara kami dikubur,” katanya sambil menahan tangis.
Kudeta 11 September 1973
Lebih dari lima dekade lalu, pada pagi hari 11 September 1973, tentara Chili bergerak cepat merebut stasiun radio, pelabuhan, hingga pangkalan militer strategis. Presiden Salvador Allende, yang kala itu baru tiga tahun menjabat, menolak mundur. Ia memilih bertahan di La Moneda bersama sejumlah pengawal dan penasihat.
Di tengah kepungan itu, Allende menyampaikan pidato terakhirnya lewat radio nasional, berisi pesan pengorbanan, harapan, dan keyakinan bahwa sejarah akan berpihak pada rakyat.
Apa pun versinya, kematian Allende menjadi simbol akhir demokrasi di Chili kala itu.
Bayang-Bayang Pinochet
Kudeta menandai awal pemerintahan militer di bawah Jenderal Augusto Pinochet, yang berkuasa hingga 1990. Selama rezimnya, ribuan orang menjadi korban pelanggaran HAM. Data Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi mencatat lebih dari 3.000 orang tewas atau hilang, dan lebih dari 30.000 lainnya mengalami penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, serta pengasingan.
“Selama 17 tahun, kami hidup dalam ketakutan. Anak-anak tumbuh tanpa ayah atau ibu, banyak keluarga tercerai-berai. Inilah mengapa peringatan ini begitu penting: agar dunia tahu bahwa kami tidak akan melupakan,” ujar Carlos Rojas (72), mantan tahanan politik yang hadir di acara peringatan.
Debat Sejarah yang Tak Pernah Usai
Meski sudah 52 tahun berlalu, kudeta militer 1973 masih menimbulkan perdebatan sengit. Namun, mayoritas masyarakat menilai kudeta adalah pengkhianatan terhadap demokrasi dan kehendak rakyat.
“Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kudeta.
Generasi muda kini mengambil peran besar dalam menjaga ingatan sejarah. Mereka mengorganisir tur edukasi ke situs-situs bekas pusat tahanan, menggelar pameran seni, hingga membuat dokumenter tentang para korban.
Demokrasi dan Tantangan Kekinian
Sejak berakhirnya rezim Pinochet pada 1990, Chili bertransformasi menjadi salah satu demokrasi paling stabil di Amerika Latin. Namun tantangan baru muncul, mulai dari ketidaksetaraan sosial, gelombang protes mahasiswa, hingga perdebatan konstitusi baru.
Bagi Presiden Boric, generasi yang tumbuh pasca-diktator punya tanggung jawab besar. “Kita tidak hanya memperingati masa lalu, tapi juga memastikan masa depan yang lebih adil. Ingatan sejarah adalah landasan untuk melawan ketidakadilan hari ini,” ujarnya.
Penutup
Peringatan 52 tahun kudeta militer yang menggulingkan Salvador Allende menjadi momen refleksi mendalam bagi bangsa Chili.






